Berendam air hangat pada dasarnya sudah bisa merilekskan tubuh Anda. Kehangatan air yang dipadukan dengan posisi tubuh terendam akan memberikan sensasi tenang sepenuhnya.
Akan tetapi, ada perbedaan yang cukup signifikan antara “berendam seadanya” dan “berendam dengan kesadaran penuh”. Beberapa penyesuaian sederhana selama sesi berendam Anda bisa meningkatkan kualitas relaksasi, tanpa memerlukan alat tambahan atau persiapan rumit.
Artikel ini mengajak Anda untuk membahas apa yang bisa dilakukan selama sesi berendam itu sendiri untuk memaksimalkan efek menenangkannya. Simak tips-nya berikut ini.
Baca Juga: Berendam Air Hangat untuk Membantu Tubuh Pulih Setelah Perjalanan
5 Cara Sederhana untuk Pengalaman Berendam yang Lebih Dalam
Sering kali, yang membuat sesi berendam kurang optimal bukan kurangnya fasilitas, melainkan kebiasaan-kebiasaan kecil yang tanpa Anda sadari mengurangi kualitas pengalaman berendam Anda.
Berikut ini adalah beberapa penyesuaian yang bisa Anda coba:
1. Atur Pernapasan Saat Baru Masuk ke Air
Momen pertama saat tubuh menyentuh air hangat sering kali berlalu begitu saja. Padahal, momen ini adalah titik transisi yang paling penting.
Ketika Anda baru masuk ke air, ambil tiga hingga lima napas dalam secara perlahan. Tarik napas melalui hidung selama empat hitungan, tahan sejenak, lalu hembuskan melalui mulut selama enam hitungan. Teknik ini mengaktifkan sistem saraf parasimpatik lebih cepat dibandingkan sekadar duduk diam.
Kombinasi kehangatan air dan pernapasan dalam menciptakan efek yang unik; tubuh merespons panas dengan vasodilatasi, sementara pernapasan lambat menurunkan detak jantung dan tekanan darah. Hasilnya, Anda bisa merasakan relaksasi yang lebih dalam hanya dalam beberapa menit pertama.
2. Lepaskan Kebiasaan Memegang Smartphone
Cara yang satu ini mungkin terdengar klise, tetapi dampaknya ternyata cukup signifikan.
Membawa smartphone ke area berendam, meskipun hanya “untuk musik”, bisa membuat otak Anda tetap terhubung dengan dunia luar. Notifikasi, dorongan untuk mengecek pesan, dan kebiasaan scroll layar secara otomatis, semuanya mengganggu proses pelepasan stimulasi yang seharusnya terjadi selama sesi berendam.
Kalau Anda memerlukan musik atau suara latar, siapkan sebelum masuk ke air dan letakkan perangkat di tempat yang tidak bisa dijangkau. Pilihan yang lebih baik lagi adalah membiarkan keheningan menjadi bagian dari pengalaman.
Banyak orang yang mencoba berendam tanpa gadget untuk pertama kalinya melaporkan bahwa sensasi relaksasinya terasa jauh lebih intens.
3. Perhatikan Suhu Air, Bukan Hanya Sensasi Hangat
Ada perbedaan yang cukup penting Anda perhatikan antara “air yang terasa hangat” dan “air di suhu yang mendukung relaksasi optimal”.
Suhu air yang terlalu tinggi (di atas 42 derajat Celsius) justru bisa membuat tubuh merasa terstimulasi, bukan rileks, karena detak jantung meningkat dan sistem saraf simpatik menjadi aktif.
Suhu ideal untuk relaksasi berada di kisaran 38 hingga 40 derajat Celsius. Di suhu ini, tubuh merespons dengan vasodilatasi yang memadai tanpa memicu respons stres termal.
Kalau Anda tidak memiliki termometer, patokan sederhananya adalah air yang terasa nyaman saat pertama kali disentuh, tanpa membuat Anda mengambil napas tajam karena terlalu panas.
4. Tutup Mata dan Fokus pada Sensasi Tubuh
Setelah napas sudah teratur dan smartphone tidak dalam jangkauan, langkah selanjutnya adalah mengarahkan perhatian ke diri Anda sendiri.
Tutup mata dan perhatikan apa yang Anda rasakan secara fisik. Kehangatan air di kulit. Tekanan halus di area dada karena air mengelilingi tubuh. Otot-otot yang perlahan mengendur, terutama di bahu dan leher.
Praktik fokus ini sering disebut body scan dalam konteks mindfulness, tetapi tidak perlu label khusus untuk melakukannya.
Cukup perhatikan tubuh Anda, bagian demi bagian, tanpa mencoba mengubah apa pun. Mulai dari ujung kaki yang terendam air, naik perlahan ke betis, paha, perut, dada, bahu, dan terakhir leher serta wajah.
Body scan membantu pikiran Anda berpindah dari tidak fokus menjadi terpusat terhadap apa yang ada di sekeliling Anda, yang merupakan inti dari relaksasi mendalam.
5. Hindari Berendam Saat Tubuh Sangat Lapar atau Sangat Kenyang
Kondisi metabolisme tubuh memengaruhi kualitas pengalaman berendam.
Saat sangat lapar, tubuh dalam mode mencari energi, sehingga sulit untuk benar-benar rileks. Saat sangat kenyang, aliran darah terkonsentrasi di saluran pencernaan, dan berendam air hangat yang menarik darah ke permukaan kulit bisa menyebabkan rasa tidak nyaman di perut.
Waktu ideal untuk berendam adalah satu hingga dua jam setelah makan ringan, atau saat Anda merasa netral secara fisik, tidak lapar dan tidak kenyang.
Baca Juga: Kapan Waktu Terbaik untuk Berendam di Onsen?
Ryokucha Body Scrub, Persiapan Sebelum Berendam untuk Relaksasi Lebih Optimal
Kalau Anda ingin membawa pengalaman berendam air hangat ke level berikutnya, pertimbangkan untuk menambahkan Ryokucha Body Scrub sebelum sesi Signature Onsen Bath di Onsei.
Scrub tersebut menggunakan campuran berbahan dasar teh hijau Jepang (ryokucha) yang membantu mengangkat sel kulit mati dan membuka pori-pori sebelum tubuh menyentuh air hangat. Ketika kulit sudah bersih dan pori-pori terbuka, kehangatan air diserap lebih merata dan efek relaksasi air hangat menjadi lebih efisien.
Ryokucha Body Scrub tersedia sebagai layanan tambahan di Onsei, dan bisa dikombinasikan dengan Signature Onsen Bath atau treatment lainnya.
Segera reservasi kunjungan Anda ke Onsei Tebet, Bintaro, atau Gading Serpong sekarang.