Sebagian besar orang menganggap massage sebagai solusi sementara ketika tubuh terasa tidak nyaman.
Anda merasa pegal, menjadwalkan satu sesi massage, kemudian kembali ke rutinitas biasa hingga pegal berikutnya datang. Siklus ini terus berulang tanpa henti, dan hasilnya selalu sama; sensasi nyaman yang bertahan beberapa hari, lalu menghilang begitu saja.
Sebenarnya hal tersebut sah-sah saja, tetapi juga tidak optimal.
Tubuh manusia merespons sentuhan terapeutik secara kumulatif. Artinya, manfaat massage akan semakin terasa seiring dengan konsistensi sesi, bukan intensitas dari satu sesi saja.
Satu sesi massage dalam sebulan menawarkan relaksasi yang menyenangkan, tetapi massage yang dilakukan secara berkala bisa mengubah cara tubuh Anda mengelola rasa tegang, stres, dan pemulihan.
Kenapa demikian? Simak penjelasannya di dalam artikel ini.
Baca Juga: Apa Itu Bamboo Shiatsu Massage dan Manfaatnya untuk Tubuh?
Apa yang Terjadi Setelah Sesi Massage?
Sebelum memahami efek panjang dari sebuah massage, penting untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dalam satu sesinya.
Ketika terapis memberikan tekanan pada jaringan otot, beberapa respons fisiologis terjadi hampir bersamaan. Tubuh memiliki reaksi berantai yang memengaruhi sistem saraf, hormonal, dan muskuloskeletal sekaligus.
Respons Langsung yang Bersifat Sementara
Selama sesi berlangsung dan setelah sesi massage selesai, tubuh menunjukkan penurunan kadar kortisol (hormon stres) dan peningkatan serotonin serta dopamin, dua neurotransmitter yang berkaitan dengan suasana hati dan rasa nyaman. Otot yang tegang mengendur, sirkulasi darah meningkat ke area yang diberikan tekanan, dan persepsi nyeri berkurang.
Namun, respons tersebut ternyata bersifat sementara. Dalam 48 hingga 72 jam setelah sesi, kadar hormonal dan ketegangan otot cenderung kembali ke kondisi sebelumnya, terutama jika faktor penyebab (postur kerja, stres mental, kurang aktivitas fisik) masih ada.
Inilah alasannya kenapa satu sesi massage terasa nyaman, tetapi efeknya tidak bertahan lama.
Kenapa Keteraturan Mengubah Hasilnya?
Yang berubah ketika massage dilakukan secara berkala bukan jenis respons tubuh, melainkan seberapa cepat dan seberapa dalam tubuh merespons. Di bawah ini adalah penjelasan lengkapnya.
1. Tubuh Belajar untuk Rileks Lebih Cepat
Sistem saraf memiliki kemampuan untuk mengingat pola relaksasi yang dijalani. Ketika massage dilakukan secara rutin, tubuh mulai mengenali stimulus sentuhan terapeutik dan meresponsnya lebih cepat.
Proses ini mirip dengan bagaimana tubuh beradaptasi terhadap latihan fisik, di mana sesi pertama mungkin terasa berat, tetapi sesi kesepuluh terasa lebih ringan karena tubuh sudah terbiasa.
Dalam konteks massage, waktu yang dibutuhkan untuk masuk ke kondisi rileks akan semakin singkat di setiap sesi. Otot yang sebelumnya membutuhkan 20 menit untuk mengendur mungkin hanya memerlukan 10 menit setelah beberapa sesi berturut-turut.
2. Rasa Tegang Bisa Diatasi Secara Bertahap
Satu sesi massage bisa melepaskan ketegangan akut, tetapi rasa tegang kronis yang sudah terbentuk selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan membutuhkan pendekatan bertahap.
Jaringan otot dan fascia yang mengeras akibat postur buruk atau stres berkepanjangan tidak bisa sepenuhnya dilepaskan dalam satu sesi.
Massage berkala bekerja lapis demi lapis. Setiap sesi mengurangi sedikit lebih banyak ketegangan yang menumpuk, hingga akhirnya tubuh kembali ke kondisi dasar yang lebih rileks.
Tentunya proses penyembuhan ini membutuhkan waktu yang bertahap, akan tetapi hasilnya lebih tahan lama dibandingkan solusi sesaat.
3. Pikiran dan Mental Menjadi Lebih Stabil
Banyak penelitian yang sudah menunjukkan bahwa massage bisa menyebabkan penurunan kecemasan dan suasana hati yang membaik. Namun, efek tersebut akan paling konsisten ketika sesi dilakukan secara teratur.
Sebuah studi bahkan menyatakan bahwa massage yang dilakukan minimal selama lima minggu berturut-turut memberikan perbaikan yang signifikan pada tingkat kecemasan dan gejala depresi, sementara sesi sporadis (sesi yang tidak dilakukan secara teratur) hanya memberikan efek yang lebih ringan dan tidak bertahan lama.
Untuk Anda yang mengalami stres terkait pekerjaan atau kehidupan sehari-hari, menjadwalkan massage sebagai bagian dari rutinitas bulanan, bukan sebagai respons darurat saat tubuh sudah sangat kelelahan, memberikan efek preventif yang jauh lebih efektif.
Seberapa Sering Seharusnya Massage Dilakukan?
Tidak ada satu jawaban yang pasti untuk semua orang, karena frekuensi ideal massage bergantung pada kondisi dan kebutuhan masing-masing. Namun, beberapa panduan umum di bawah ini bisa menjadi acuan frekuensi massage yang cocok untuk Anda:
- Untuk pemeliharaan kesehatan umum dan manajemen stres, satu hingga dua kali per bulan sudah cukup untuk menjaga efek kumulatif.
- Untuk mengatasi ketegangan kronis atau nyeri yang memengaruhi aktivitas harian, frekuensi yang lebih tinggi (satu kali per minggu selama empat hingga delapan minggu) bisa memberikan hasil yang lebih cepat, sebelum menurunkan frekuensi ke level pemeliharaan.
Selalu ingat, konsistensi lebih penting dari intensitas. Dua sesi 60 menit per bulan yang dijadwalkan tetap akan memberikan hasil yang lebih baik daripada satu sesi 120 menit yang dilakukan hanya saat tubuh sudah sangat tidak nyaman.
Baca Juga: 5 Manfaat Reflexology untuk Tubuh yang Sering Pegal dan Lelah, Lebih dari Sekadar Pijat Kaki
Mulai Rutinitas Massage Anda di Onsei
Tertarik untuk menjadikan massage sebagai bagian dari rutinitas berkala Anda? Onsei Flow Massage bisa menjadi pilihan awal yang tepat.
Treatment berdurasi 60 menit dari Onsei tersebut menggunakan tekanan mengalir yang lembut namun mendalam, cocok untuk sesi yang dilakukan secara rutin tanpa membuat tubuh terlalu kelelahan setelahnya.
Dengan menjadwalkan kunjungan satu hingga dua kali per bulan, Anda bisa mulai merasakan efek jangka panjang di atas, seperti tubuh yang lebih cepat rileks, ketegangan yang tidak lagi menumpuk separah sebelumnya, dan kondisi mental yang lebih stabil dari minggu ke minggu.
Segera jadwalkan kunjungan Anda ke Onsei di Tebet, Bintaro, atau Gading Serpong sekarang.
Referensi
- Field, T. (2016). Massage therapy research review. Complementary Therapies in Clinical Practice, 24, 19–31.
- Li, Y., Wang, F., Feng, C., et al. (2014). Massage therapy for fibromyalgia: A systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. PLoS One, 9(2), e89304.