Di tengah kehidupan perkotaan yang padat, ada satu praktik dari Jepang yang semakin mendapat perhatian global: shinrin-yoku, yang secara harfiah berarti “mandi hutan”.
Meski namanya terdengar sederhana, shinrin-yoku bukan sekadar berjalan-jalan di taman. Praktik tersebut termasuk ke dalam metode kesehatan preventif yang didukung oleh penelitian ilmiah selama lebih dari dua dekade, dengan mekanisme fisiologis yang spesifik dan terukur.
Artikel ini akan mengulas apa itu shinrin-yoku, mekanisme ilmiah di baliknya, cara mempraktikkannya, dan relevansinya bagi kehidupan di kota besar. Simak penjelasan lengkapnya di sini.
Baca Juga: Inspirasi Gaya Hidup Jepang untuk Menjaga Kesehatan Fisik dan Mental
Asal-Usul Shinrin-Yoku sebagai Program Kesehatan
Istilah shinrin-yoku (森林浴) pertama kali diperkenalkan pada tahun 1982 oleh Tomohide Akiyama, kepala Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan Jepang. Konsep ini diluncurkan sebagai program kesehatan preventif untuk membantu pekerja mengatasi stres akibat urbanisasi cepat dan tekanan teknologi.
Konteks keseluruhan dari kegiatan tersebut sangat penting untuk dipahami. Pada awal 1980-an, Jepang mengalami fenomena technostress, yaitu dampak negatif dari ketergantungan berlebihan pada teknologi. Gejalanya meliputi kecemasan, sakit kepala, kelelahan mental, hingga insomnia.
Ditambah dengan budaya kerja berlebihan yang kemudian melahirkan istilah karoshi (kematian akibat kerja berlebihan), pemerintah Jepang membutuhkan metode preventif yang efektif dan mudah diakses.
Karena 67 persen wilayah daratan Jepang adalah hutan, shinrin-yoku menjadi pilihan yang logis.
Awalnya konsep ini hanya didasarkan pada akal sehat, yaitu bahwa berada di hutan yang hijau pasti baik untuk kesehatan. Namun sejak tahun 2004, tim peneliti yang dipimpin oleh Dr. Qing Li dari Nippon Medical School mulai membangun bukti ilmiah yang sistematis.
Mekanisme Ilmiah di Balik Shinrin-Yoku
Penelitian yang dilakukan selama lebih dari dua dekade mengungkap beberapa mekanisme fisiologis spesifik yang menjelaskan efek shinrin-yoku terhadap tubuh.
1. Phytoncide dan Sistem Imun
Salah satu temuan paling signifikan berkaitan dengan phytoncide, yaitu senyawa organik antimikroba yang dilepaskan oleh pohon ke udara sekitar. Contoh phytoncide yang terdeteksi di udara hutan Jepang antara lain alpha-pinene, beta-pinene, dan limonene.
Penelitian Li et al. menunjukkan bahwa menghirup phytoncide selama sesi shinrin-yoku meningkatkan jumlah dan aktivitas natural killer (NK) cell dalam darah. NK cell adalah sel imun yang berperan penting dalam pertahanan tubuh terhadap virus dan sel tumor.
Peningkatan aktivitas NK cell setelah satu sesi shinrin-yoku selama tiga hari bertahan hingga lebih dari tujuh hari, bahkan hingga 30 hari dalam beberapa parameter (Li, 2022).
Sebagai kontrol, peneliti melakukan studi serupa dengan mengajak subjek jalan-jalan di kota (tanpa hutan). Hasilnya, jalan-jalan di kota tidak meningkatkan aktivitas NK cell, mengonfirmasi bahwa efeknya berasal dari lingkungan hutan, bukan dari aktivitas jalan kaki itu sendiri.
2. Penurunan Hormon Stres
Shinrin-yoku juga terbukti menurunkan kadar hormon stres secara terukur. Tiga hormon stres yang diteliti meliputi adrenalin (indikator stres mental), noradrenalin (indikator stres fisik), dan kortisol (indikator stres umum).
Beberapa sesi berjalan di hutan menurunkan ketiga hormon tersebut secara signifikan, dengan efek terbesar pada adrenalin, yang menunjukkan bahwa dampak shinrin-yoku terhadap stres mental lebih besar daripada terhadap stres fisik.
3. Keseimbangan Sistem Saraf
Studi juga menunjukkan bahwa shinrin-yoku meningkatkan aktivitas sistem saraf parasimpatik (mode istirahat dan pemulihan) sambil menurunkan aktivitas sistem saraf simpatik (mode siaga). Pergeseran ini berkontribusi pada penurunan tekanan darah dan detak jantung selama dan setelah sesi di hutan.
Bagaimana Cara Mempraktikkan Shinrin-Yoku?
Yang membedakan shinrin-yoku dari hiking atau olahraga di alam terbuka adalah pendekatannya yang lambat, tenang, dan berfokus pada keterlibatan sensorik, bukan pencapaian fisik.
Langkah dasarnya cukup sederhana:
- Pertama, matikan atau simpan perangkat elektronik. Shinrin-yoku menuntut digital detox selama sesi berlangsung.
- Kedua, berjalan dengan sangat lambat atau duduk diam di area yang dikelilingi pepohonan. Kegiatan ini bukan lomba menempuh jarak tertentu.
- Ketiga, libatkan kelima indra secara sadar: perhatikan warna hijau dedaunan, dengarkan suara burung dan angin, sentuh kulit pohon atau lumut, hirup aroma tanah basah dan daun, dan rasakan udara yang lebih segar dari biasanya.
Durasi yang direkomendasikan bervariasi, tetapi penelitian menunjukkan bahwa bahkan sesi dua jam shinrin-yoku sudah bisa menghasilkan penurunan kortisol dan peningkatan suasana hati yang terukur.
Relevansi Shinrin-Yoku di Kehidupan Kota
Salah satu kritik terbesar terhadap shinrin-yoku adalah keterbatasan akses ke hutan bagi penduduk kota besar.
Walaupun begitu, penelitian terbaru menunjukkan bahwa sesi shinrin-yoku di taman kota juga memberikan manfaat, meski mungkin tidak sebesar di hutan alami. Li (2022) mencatat bahwa shinrin-yoku di taman kota juga meningkatkan aktivitas NK cell dan menurunkan hormon stres pada subjek penelitian.
Prinsip dasar shinrin-yoku juga bisa diadaptasi dalam skala kecil. Meluangkan waktu untuk duduk diam di bawah pepohonan di taman terdekat, tanpa memegang smartphone, sambil memperhatikan suara dan aroma di sekitar, sudah merupakan bentuk sederhana dari praktik ini.
Baca Juga: Perbedaan Onsen, Ofuro, dan Sento dalam Budaya Jepang
Nikmati Pengalaman Relaksasi yang Menenangkan dengan Tsubo Reflexology di Onsei
Kalau shinrin-yoku berfokus pada relaksasi melalui koneksi sensorik dengan alam, Tsubo Reflexology di Onsei menawarkan pendekatan yang komplementer melalui titik-titik refleksi di telapak kaki.
Tsubo Reflexology berdurasi 60 menit menargetkan titik-titik tsubo di telapak kaki yang dipercaya terhubung dengan berbagai sistem di dalam tubuh.
Setelah seharian beraktivitas di kota, sesi ini bisa menjadi cara untuk menghadirkan momen ketenangan yang menyerupai prinsip shinrin-yoku: melambat, melepas distraksi, dan membiarkan tubuh merespons secara alami.
Tertarik untuk menjajal pengalaman relaksasi tersebut? Segera reservasi kunjungan Anda ke Onsei di Tebet, Bintaro, atau Gading Serpong melalui tautan ini.
Referensi
Li, Q. (2022). Effects of forest environment (Shinrin-yoku/Forest bathing) on health promotion and disease prevention – the Establishment of “Forest Medicine”. Environmental Health and Preventive Medicine, 27, 43.