Setelah seharian duduk menatap layar, tubuh sering kali memberikan sinyal kelelahan di penghujung hari. Misalnya, tangan yang tetap dingin meski suhu ruangan cukup hangat, tungkai kaki yang terasa berat, atau sepatu yang mendadak terasa lebih sempit dibandingkan tadi pagi.
Banyak orang menganggap keluhan tersebut sekadar rasa tidak nyaman yang wajar. Kenyataannya, ada sirkulasi perifer yang sedang bekerja lebih keras dari batas kewajarannya.
Berendam di air hangat menjadi salah satu cara paling efektif dan mudah untuk membantu tubuh menata ulang aliran darah. Menariknya, manfaat yang Anda rasakan bukan hanya berasal dari kehangatan air. Ada dua mekanisme berbeda yang bekerja secara bersamaan.
Memahami kedua manfaat berendam di air hangat tersebut pastinya akan membuat waktu relaksasi Anda terasa jauh lebih bermakna.
Baca Juga: Apakah Onsen Bisa Membantu Mengurangi Pegal
Kenapa Sirkulasi Darah di Tangan dan Kaki Sering Bermasalah?
Gravitasi terus-menerus menarik beban pada tubuh Anda.
Ketika Anda duduk atau berdiri berjam-jam, darah cenderung mengalir ke bawah sehingga cairan menumpuk di area terjauh dari jantung seperti betis, pergelangan kaki, dan telapak tangan.
Ketika Anda aktif bergerak, otot betis akan berkontraksi setiap kali melangkah dan membantu mendorong darah vena kembali ke atas. Peran krusial tersebut membuat otot betis sering dijuluki sebagai jantung kedua.
Sayangnya, gaya hidup modern sering kali membatasi ruang gerak tersebut. Jadwal rapat yang padat, pekerjaan yang menuntut fokus penuh di depan layar, sampai penerbangan jarak jauh membuat betis lebih banyak terdiam.
Hasilnya tentu akan sangat terasa, yakni tangan dan kaki yang terasa lebih dingin dari bagian tubuh lainnya, pembengkakan halus pada tungkai di sore hari, sekaligus rasa berat yang membuat langkah kaki tidak lagi ringan.
Dua Mekanisme yang Terjadi Ketika Tubuh Anda Terendam Air Hangat
Ritual berendam ternyata lebih dari sekadar menghangatkan tubuh. Ada dua proses fisiologis yang berjalan berdampingan saat Anda masuk ke dalam kolam onsen:
1. Efek Termal (Pelebaran Pembuluh Darah)
Proses pertama ini sebenarnya sudah cukup sering dibahas. Saat kulit terkena air hangat, pembuluh darah di dekat permukaan akan melebar melalui proses yang disebut vasodilatasi. Aliran darah menuju area kulit pun meningkat pesat.
Darah tersebut membawa lebih banyak kehangatan ke ujung-ujung jari yang tadinya dingin. Efeknya bisa Anda rasakan dengan sangat cepat. Tangan yang semula kaku perlahan terasa lebih rileks dan hangat hanya dalam beberapa menit setelah masuk ke air hangat.
2. Efek Hidrostatik (Gaya Apung yang Melawan Gravitasi)
Proses kedua inilah yang jarang diketahui banyak orang, padahal sangat berperan membuat tungkai terasa lebih ringan setelah Anda selesai berendam.
Ketika tubuh terendam, air memberikan gaya apung atau buoyancy yang secara efektif menahan tarikan gravitasi. Perbedaan fisiologisnya sangat terasa. Ketika Anda berdiri, tekanan di dalam pembuluh darah tungkai bawah bisa melonjak hingga hampir dua kali lipat tekanan di area jantung.
Tekanan tinggi tersebut membuat cairan mudah merembes keluar dari kapiler menuju jaringan sekitarnya. Rembesan cairan pelan-pelan menyebabkan pembengkakan halus di kaki sehabis duduk terlalu lama.
Berendam membantu gaya apung menekan gradien tekanan tersebut. Cairan yang sebelumnya terjebak di jaringan tungkai bawah bisa kembali masuk ke dalam aliran darah, sehingga volume darah yang bersirkulasi pun ikut meningkat.
Berbagai studi mencatat adanya penambahan sekitar 500 hingga 700 mililiter cairan selama tubuh terendam air. Cairan tersebut kemudian bergeser secara alami ke arah tengah tubuh dan membantu jantung bekerja lebih optimal sekaligus memperbaiki distribusi darah secara menyeluruh.
Siapa yang Paling Cocok Berendam Air Hangat?
Kombinasi kedua mekanisme termal dan hidrostatik tadi akan terasa sangat signifikan bagi Anda yang rutinitasnya banyak dihabiskan dengan posisi diam dalam waktu lama, seperti:
- Para pekerja kantoran, orang-orang yang sering mengeluhkan tangan dan kaki dingin, atau Anda yang tungkai bawahnya selalu terasa berat di malam hari akan paling merasakan perbedaannya.
- Para pelancong yang baru tiba dari penerbangan panjang juga sangat dianjurkan untuk berendam. Posisi duduk berjam-jam di ketinggian pesawat sangat membebani sirkulasi darah di area kaki.
Sebagai catatan tambahan, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter atau tenaga kesehatan jika Anda memiliki kondisi kardiovaskular tertentu, tekanan darah yang kurang stabil, maupun riwayat gangguan sirkulasi darah sebelum rutin melakukan berendam air hangat.
Baca Juga: Siapa Saja yang Cocok Menikmati Private Onsen?
Nikmati Ritual Berendam Air Hangat Khas Jepang Hanya di Onsei
Bagi Anda yang ingin merasakan kombinasi efek termal dan hidrostatik lewat satu sesi yang terarah, Onsei Flow Ritual berdurasi 90 menit bisa menjadi pilihan yang tepat.
Perawatan tersebut memadukan Onsei Flow Massage, yakni pijatan mengalir dengan tekanan lembut hingga sedang guna meredakan ketegangan otot dan menstimulasi sirkulasi. Setelahnya, tubuh Anda akan dimanjakan dalam Signature Onsen Bath menggunakan bak kayu jati yang diisi air mineral hangat.
Urutan massage di awal lalu ditutup dengan berendam sengaja dirancang agar tubuh Anda berada pada kondisi paling reseptif saat kedua mekanisme sirkulasi mulai bekerja.
Sebuah ritual relaksasi sederhana namun sangat bermakna untuk mengembalikan kebugaran setelah tubuh terlalu lama terdiam. Segera reservasi kunjungan Anda ke Onsei melalui tautan ini.
Referensi
Toya, A., Hayashi, N., Imai, D., Matsutake, T., Suzuki, Y., Yokoyama, H., & Okazaki, K. (2026). Effects of Alternating Mild-Cold and Hot Water Immersion on Lower-Leg Blood Flow Following Immersion in Healthy Young Adults. Scandinavian Journal of Medicine & Science in Sports, 36, e70284.
Weenink, R. P., & Wingelaar, T. T. (2021). The Circulatory Effects of Increased Hydrostatic Pressure Due to Immersion and Submersion. Frontiers in Physiology, 12, 699493.
Carter, H. H., Pienaar, O., Coleman, A., Cheng, J. L., MacDonald, M. J., Naylor, L. H., & Green, D. J. (2023). The effects of water temperature on cerebral blood flow during aquatic exercise. European Journal of Applied Physiology, 123(11), 2437-2446.
Weston, C. F. M., O’Hare, J. P., Evans, J. M., & Corrall, R. J. M. (1987). Haemodynamic changes in man during immersion in water at different temperatures. Clinical Science, 73, 613-616.