Skip to content Skip to footer

Hubungan Air Hangat dengan Relaksasi Tubuh

Banyak orang telah paham bahwa berendam air hangat membuat tubuh terasa lebih rileks. Namun, jarang yang memahami kenapa mekanisme tersebut bisa terjadi.

Sensasi nyaman yang Anda rasakan saat tubuh terendam air hangat bukan sekadar efek psikologis. Ada serangkaian respons fisiologis yang bekerja di baliknya, mulai dari perubahan pada pembuluh darah hingga pergeseran aktivitas sistem saraf.

Memahami mekanisme tersebut sangatlah penting karena memberi Anda pengetahuan dasar untuk memaksimalkan manfaat berendam. Ketika Anda tahu apa yang terjadi di dalam tubuh, Anda bisa menyesuaikan durasi, suhu, dan rutinitas sebelum serta sesudah berendam agar hasilnya lebih optimal.

Artikel ini akan mengulas hubungan antara air hangat dan relaksasi tubuh dari sisi sains, tanpa klaim medis, tetapi berdasarkan mekanisme yang sudah dipahami dalam dunia kesehatan.

Simak penjelasan lengkapnya berikut ini.

Baca Juga: Perbedaan Onsen dan Sauna, Mana yang Cocok untuk Anda?

Apa yang Terjadi pada Tubuh Saat Terkena Air Hangat?

Ketika tubuh Anda bersentuhan dengan air bersuhu hangat, beberapa respons terjadi hampir bersamaan.

Reaksi tersebut bukan hal yang bisa Anda rasakan secara langsung satu per satu, tetapi efek kumulatifnya menciptakan kondisi yang dikenal sebagai relaksasi fisik.

Di bawah ini adalah penjelasan dari masing-masing mekanisme utamanya:

1. Vasodilatasi: Pembuluh Darah Melebar

Saat kulit terpapar air hangat, pembuluh darah di dekat permukaan tubuh melebar. Proses ini disebut vasodilatasi. Pelebaran pembuluh darah meningkatkan aliran darah ke jaringan otot dan kulit, sehingga oksigen dan nutrisi lebih banyak tersalurkan ke area yang membutuhkan.

Pada saat yang sama, sisa metabolisme di jaringan otot, seperti asam laktat yang menumpuk setelah aktivitas fisik, juga lebih efektif terbuang melalui aliran darah yang meningkat. Proses ini serupa dengan apa yang terjadi saat Anda berolahraga ringan, tetapi tanpa harus mengeluarkan tenaga tambahan.

Inilah salah satu alasan mengapa setelah berendam air hangat, tubuh terasa lebih ringan dan segar meskipun Anda tidak melakukan gerakan aktif apa pun.

2. Aktivasi Sistem Saraf Parasimpatik

Tubuh manusia memiliki dua mode utama dalam sistem saraf otonom: simpatik (aktif saat waspada atau stres) dan parasimpatik (aktif saat tubuh beristirahat). Air hangat membantu mengaktifkan mode parasimpatik tersebut.

Reseptor suhu di kulit mengirimkan sinyal ke otak bahwa lingkungan aman dan nyaman, sehingga tubuh menurunkan produksi hormon stres seperti kortisol. Detak jantung melambat, tekanan darah cenderung turun, dan otot-otot yang sebelumnya tegang mulai mengendur secara alami.

Efek ini menjelaskan alasan kenapa banyak orang merasa mengantuk setelah berendam air hangat. Tubuh sedang berpindah dari mode “siaga” ke mode “pemulihan”.

3. Penurunan Kekakuan Otot dan Sendi

Air hangat juga memengaruhi jaringan ikat dan cairan sendi. Suhu yang meningkat membuat kolagen di jaringan ikat lebih elastis, sehingga otot dan sendi terasa lebih lentur. Cairan sinovial di persendian menjadi lebih encer, yang membantu mengurangi rasa kaku terutama di area punggung, bahu, dan leher.

Bagi Anda yang menghabiskan banyak waktu duduk di depan layar, efek ini bisa sangat terasa.

Selain itu, ada mekanisme lain yang dikenal sebagai pain gate effect. Reseptor suhu di kulit yang terangsang oleh air hangat mengirimkan sinyal sensorik ke otak lebih cepat daripada sinyal nyeri dari otot yang tegang.

Akibatnya, otak memprioritaskan sinyal kehangatan dan secara sementara “menutup akses” bagi sinyal rasa tidak nyaman.

Mekanisme tersebut menjelaskan kenapa rasa pegal di punggung atau bahu sering terasa berkurang hampir segera setelah Anda masuk ke dalam air hangat.

Berapa Lama Efek Relaksasi Air Hangat Bertahan?

Pertanyaan tersebut memang sering muncul di benak banyak orang, dan jawabannya bergantung pada durasi serta suhu air yang digunakan.

Berdasarkan berbagai studi tentang hidroterapi, efek relaksasi dari air hangat pada suhu sekitar 33 hingga 40 derajat Celsius bisa bertahan antara 8 hingga 10 jam setelah sesi berendam. Efek ini mencakup berkurangnya ketegangan otot, menurunnya tingkat kewaspadaan berlebihan, dan perasaan tubuh yang lebih ringan.

Di sisi lain, ada satu temuan menarik lainnya terkait berendam air hangat. Semakin rutin seseorang melakukan sesi berendam air hangat, semakin banyak manfaat yang bisa dirasakan. Tubuh yang terbiasa dengan siklus relaksasi termal cenderung merespons lebih cepat dan mempertahankan kondisi rileks lebih lama dibandingkan mereka yang baru pertama kali mencoba.

Oleh karena itu, menjadikan berendam air hangat sebagai bagian dari rutinitas mingguan bisa memberikan hasil yang lebih konsisten daripada melakukannya secara sesekali.

Baca Juga: Onsen Pagi vs Onsen Malam, Mana yang Lebih Baik?

Rasakan Sendiri Efek Relaksasi Air Hangat di Onsei

Teori tentang vasodilatasi, respons parasimpatik, dan penurunan kekakuan otot bisa Anda baca di mana saja. Namun, merasakan sensai berendam air hangat secara langsung adalah pengalaman yang berbeda.

Di Onsei, Signature Onsen Bath menggunakan bak kayu jati buatan tangan yang dirancang untuk menahan kehangatan secara alami, menciptakan kondisi ideal bagi tubuh untuk menjalankan seluruh mekanisme relaksasi yang telah dibahas di atas.

Anda bisa menikmati Signature Onsen Bath sebagai layanan tambahan berdurasi 30 menit dalam setiap kunjungan, atau menggabungkannya dengan salah satu ritual Onsei seperti Onsei Flow Ritual atau Onsei Bamboo Ritual untuk pengalaman relaksasi yang lebih menyeluruh.

Ketika massage dan berendam dilakukan dalam satu rangkaian, efek vasodilatasi dan respons parasimpatik yang telah dibahas di atas bisa bekerja lebih optimal karena tubuh sudah dalam kondisi rileks saat memasuki tahap berendam.

Tertarik? Segera reservasi kunjungan Anda ke Onsei di Tebet, Bintaro, atau Gading Serpong sekarang juga.

Referensi

  • Alim, R., & Santoso, J. A. (2025). Effectiveness of Cold and Warm Water Hydrotherapy in Patients With Chronic Low Back Pain: A Systematic Review and Meta-Analysis. Sport-Mu: Jurnal Pendidikan Olahraga, 6(2), 229–250.
  • Jackman, J. S., Bell, P. G., Van Someren, K., Gondek, M. B., Hills, F. A., Wilson, L. J., & Cockburn, E. (2023). Effect of hot water immersion on acute physiological responses following resistance exercise. Frontiers in Physiology, 14, 1213733.
  • Dehghan, M., & Farahbod, F. (2014). The efficacy of thermotherapy and cryotherapy on pain relief in patients with acute low back pain. Journal of Clinical and Diagnostic Research, 8(9), 01–04.
  • Nascimento, P. R. C., Costa, L. O. P., Araujo, A. C., Poitras, S., & Bilodeau, M. (2023). Effectiveness of hydrotherapy in the management of chronic low back pain: An updated systematic review and meta-analysis. Archives of Physical Medicine and Rehabilitation, 104(5), 957–971.

Onsei

Inspired by Japanese mindful living, our treatments blend mineral-rich baths, intuitive touch, and personalized care to restore calm, clarity, and balance.

Recent Services